Berita

Upaya Elevarm dalam Membangun Pertanian yang Lebih Ramah Lingkungan

Published on
blog-post-image-1
Pertanian hortikultura memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia. Di saat yang sama, praktik budidaya yang semakin intensif juga membawa tantangan tersendiri bagi lingkungan. Penggunaan pupuk sintetis dan pestisida yang berlebihan, misalnya, telah lama dikaitkan dengan degradasi tanah, pencemaran air, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca.

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa perubahan pendekatan, produktivitas lahan justru berisiko menurun dalam jangka panjang. Risiko lingkungan pun semakin besar, terutama di tengah tekanan perubahan iklim.

Sejumlah penelitian menguatkan hal tersebut. Studi dalam Agriculture, Ecosystems & Environment (2023) menunjukkan bahwa sistem hortikultura intensif sering kali diikuti dengan penurunan bahan organik tanah dan aktivitas mikroba. Sementara itu, kajian Life Cycle Assessment di Asia Tenggara (2022) serta studi di Journal of Cleaner Production (2024) mengidentifikasi pupuk nitrogen sintetis sebagai salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca dalam produksi hortikultura.

Temuan-temuan ini mengarah pada satu kebutuhan yang sama yaitu peralihan menuju praktik pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan input, lebih regeneratif, dan memiliki jejak emisi yang lebih rendah.

Melihat tantangan tersebut, Elevarm mengembangkan pendekatan yang berfokus pada pengelolaan lingkungan secara lebih terintegrasi, mulai dari input hingga praktik di tingkat lahan.

Pengelolaan tanah melalui pendekatan regeneratif

Salah satu fokus utama adalah menjaga kesehatan tanah sebagai fondasi produksi jangka panjang. Elevarm memanfaatkan limbah organik untuk diolah menjadi vermikompos dan nutrisi berbasis mikroba, yang kemudian dikembalikan ke lahan sebagai bagian dari sistem sirkular.

Pendekatan ini membantu meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan mendukung aktivitas mikroba yang berperan penting dalam kesuburan tanah. Seiring waktu, kondisi ini berkontribusi pada struktur tanah yang lebih baik serta produktivitas yang lebih stabil.

Efisiensi input melalui pupuk hayati

Selain itu, Elevarm juga mendorong penggunaan pupuk hayati sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada input sintetis. Penggunaan input yang lebih terukur membantu petani menjaga keseimbangan nutrisi tanaman sekaligus mengurangi potensi dampak negatif terhadap lingkungan.

Hal ini sejalan dengan temuan dalam studi Environmental Monitoring and Assessment (2023) yang menekankan pentingnya pendampingan agronomi dalam meningkatkan efisiensi penggunaan input. Dengan pendekatan yang lebih tepat, risiko pencemaran dapat ditekan tanpa mengorbankan kesehatan tanaman.

Upaya mitigasi iklim dalam operasional

Dalam aspek operasional, Elevarm mulai mengintegrasikan praktik yang mendukung pengurangan emisi. Pemanfaatan panel surya pada beberapa aktivitas menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.

Di tingkat lahan, praktik carbon farming juga mulai diterapkan melalui peningkatan kandungan karbon dalam tanah. Pendekatan ini membantu memperkuat fungsi lahan sebagai penyerap karbon, sekaligus menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang. Arah ini sejalan dengan rekomendasi berbagai studi mengenai transisi hortikultura berkelanjutan, seperti yang dibahas dalam Frontiers in Sustainable Food Systems (2024).

Mendorong sistem agroforestri

Elevarm juga mendorong penerapan agroforestri dengan menanam tanaman keras sebagai bagian dari sistem pertanian jangka panjang. Kehadiran tanaman ini memberikan manfaat tambahan, mulai dari penyerapan karbon hingga peningkatan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini membantu menciptakan sistem pertanian yang lebih seimbang antara produktivitas dan keberlanjutan lingkungan.

Membangun sistem pertanian yang lebih berkelanjutan

Melalui kombinasi praktik regeneratif, efisiensi penggunaan input, serta pengelolaan operasional yang lebih bertanggung jawab, Elevarm berupaya membangun sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Sustainability Report Elevarm 2025 menunjukkan bahwa pendekatan ini berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas di tingkat petani, dengan rata-rata kenaikan produktivitas sebesar 12,2% dan total hasil panen yang mencapai lebih dari 1.200 ton. Hal ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kinerja produksi yang tetap optimal.

Langkah-langkah ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Elevarm dalam mendorong transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih berkelanjutan, adaptif, dan rendah emisi.

Written by
Kirana Mulya
linkedin-logo
facebook-logo
x-logo
telegram-logo
whatsapp-logo
Related Articles
The latest industry news, interviews, technologies, and resources.
Berita
Peran Petani Perempuan dan Petani Muda dalam Masa depan Pertanian Indonesia
03 May 2026
Berita
Meningkatkan Literasi Petani sebagai Pembekalan untuk Tumbuh Mandiri
11 Apr 2026