Hal ini juga ditegaskan dalam riset berjudul Digital Agricultural Technology for Smallholder Farmers: Barriers and Opportunities in Indonesia yang dipublikasikan dalam SOCA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian oleh Dias Satria, Wahida Maghraby, dan Axellina Muara Setyanti. Studi ini menunjukkan bahwa rendahnya literasi pertanian, digital, dan finansial masih menjadi salah satu hambatan utama bagi petani kecil di Indonesia.
Keterbatasan pemahaman terhadap praktik budidaya yang tepat, akses informasi pasar, serta pengelolaan keuangan membuat petani sulit memanfaatkan teknologi, meningkatkan efisiensi, dan mengelola risiko usaha tani secara optimal. Studi tersebut juga menekankan bahwa adopsi teknologi pertanian tidak cukup hanya dengan menyediakan alat atau platform digital, tetapi perlu diiringi dengan penguatan kapasitas dan literasi petani secara berkelanjutan.
Berangkat dari tantangan tersebut, Elevarm mengembangkan berbagai pendekatan untuk memperkuat literasi petani secara menyeluruh.
Penguatan literasi agronomi
Elevarm memperkuat literasi agronomi melalui penyediaan modul pembelajaran digital, panduan budidaya, serta pendampingan teknis yang aplikatif dan mudah diakses. Pendekatan ini dirancang agar petani tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu langsung menerapkannya di lapangan.Sepanjang tahun 2025, program pendampingan ini dijalankan secara konsisten melalui sekitar 10 sesi pelatihan dan berbagi pengetahuan setiap bulan, yang mencakup praktik budidaya dan pengelolaan tanaman. Selain itu, layanan diagnosis tanaman membantu petani mengenali permasalahan sejak dini dan menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.
Penguatan literasi ini berkontribusi pada peningkatan kinerja budidaya. Data Sustainability Report Elevarm 2025 menunjukkan bahwa produktivitas petani meningkat rata-rata sebesar 12,2%, dengan total hasil panen mencapai lebih dari 1.200 ton sepanjang tahun. Hal ini mencerminkan bahwa peningkatan pengetahuan memiliki dampak langsung terhadap kualitas dan kuantitas produksi.
Literasi pasar untuk keputusan yang lebih strategis
Selain aspek budidaya, pemahaman terhadap pasar juga menjadi kunci dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian. Elevarm menyediakan informasi harga dan pasar yang relevan untuk membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat, mulai dari perencanaan waktu tanam hingga penentuan waktu panen.Dengan literasi pasar yang lebih baik dan didukung oleh kepastian serapan hasil panen, petani memiliki peluang lebih besar untuk menjaga stabilitas pendapatan. Pada tahun 2025, pendapatan bersih petani tercatat mencapai sekitar Rp1,5–2 juta per bulan, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 15,9% pada setiap siklus tanam.
Penguatan literasi finansial dan manajemen risiko
Literasi finansial menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani. Tanpa pemahaman yang memadai, petani cenderung kesulitan dalam merencanakan keuangan maupun mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi.Untuk menjawab kebutuhan ini, Elevarm memfasilitasi akses terhadap berbagai solusi pembiayaan melalui sosialisasi skema pembiayaan dan produk perlindungan, termasuk asuransi gagal panen, asuransi jiwa, dan asuransi pertanian.
Pendekatan ini tidak hanya membantu petani memahami risiko usaha, tetapi juga mendorong pengelolaan keuangan yang lebih terencana. Di tingkat komunitas, peningkatan aktivitas usaha tani juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja, dengan jumlah tenaga kerja di lahan pertanian meningkat hingga 120%.
Membangun petani yang lebih mandiri
Dengan mengintegrasikan literasi agronomi, pasar, dan finansial, Elevarm membekali petani dengan pengetahuan yang relevan dan dapat diterapkan dalam keseharian. Pendekatan ini sejalan dengan temuan riset yang menekankan bahwa peningkatan literasi merupakan kunci agar petani mampu beradaptasi terhadap perubahan, memanfaatkan peluang, serta mengembangkan usaha taninya secara mandiri.Sustainability Report Elevarm 2025 menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak hanya berkontribusi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun petani yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

