Berbagai studi menunjukkan bahwa kedua kelompok ini kerap menghadapi hambatan dalam mengakses sumber daya, pelatihan, maupun peran dalam pengambilan keputusan. Padahal, keterlibatan mereka berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan sistem pertanian.
Hal ini sejalan dengan temuan dalam studi Gender Inequality in Access to Agricultural Resources in Indonesia (2022), yang menunjukkan bahwa petani perempuan memiliki akses lebih terbatas terhadap lahan, pembiayaan, dan pelatihan dibandingkan petani laki-laki. Kesenjangan ini berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan rumah tangga petani, meskipun perempuan terlibat aktif dalam kegiatan budidaya dan pascapanen.
Temuan lain dalam studi Women’s Role in Horticultural Value Chains in Developing Countries: Evidence from Indonesia (2023) memperlihatkan bahwa perempuan banyak terlibat dalam aktivitas pascapanen seperti sortasi dan pengolahan. Namun, kontribusi tersebut belum selalu diikuti dengan pengakuan ekonomi yang setara. Studi ini juga menunjukkan bahwa akses terhadap pelatihan dan pasar dapat meningkatkan pendapatan sekaligus posisi tawar petani perempuan.
Di sisi lain, tantangan regenerasi petani juga semakin terasa. Studi Youth Participation in Indonesian Agriculture: Challenges and Opportunities (2022) mencatat bahwa rendahnya partisipasi petani muda dipengaruhi oleh persepsi tingginya risiko usaha tani, keterbatasan akses lahan dan modal, serta minimnya model pertanian yang menawarkan kepastian pendapatan. Tanpa upaya yang terarah, kesenjangan generasi ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan sektor pertanian dalam jangka panjang.
Melihat kondisi tersebut, Elevarm menempatkan inklusi sebagai bagian penting dalam pengembangan ekosistem pertanian.
Mendorong peran perempuan dalam komunitas pertanian
Elevarm mendorong keterlibatan perempuan dalam berbagai aktivitas pertanian, termasuk dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas. Upaya ini membuka ruang bagi perempuan untuk berperan lebih aktif dan memiliki posisi yang lebih kuat dalam ekosistem pertanian.Pada tahun 2025, sebanyak 175 petani perempuan memimpin kelompok tani dalam ekosistem Elevarm. Angka ini menunjukkan adanya pergeseran peran, dari yang sebelumnya lebih banyak berada di sisi operasional menjadi bagian dari penggerak komunitas.
Akses terhadap pelatihan dan pasar yang lebih jelas turut mendukung peningkatan kontribusi ekonomi perempuan di tingkat rumah tangga.
Mendorong regenerasi melalui petani muda
Keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Elevarm mendorong hal ini melalui pendampingan agronomi, pemanfaatan teknologi, serta model usaha yang lebih terstruktur.Pada tahun 2025, sekitar 12,86% petani mitra Elevarm merupakan generasi muda berusia di bawah 35 tahun. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pertanian mulai dilihat sebagai sektor yang memiliki peluang, terutama ketika didukung oleh sistem yang lebih jelas dan terukur.
Pendekatan ini membantu mengubah persepsi terhadap pertanian, dari sektor dengan risiko tinggi menjadi sektor yang lebih terbuka terhadap inovasi dan peluang ekonomi.
Membuka akses melalui program Taruna Tani
Untuk menjembatani kesenjangan antara ketersediaan lahan dan keterbatasan talenta muda, Elevarm mengembangkan program Taruna Tani. Program ini memberi kesempatan bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam pengelolaan pertanian.Melalui pengalaman di lapangan, peserta dapat memahami proses budidaya secara menyeluruh sekaligus membangun keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pertanian modern.
Membangun ekosistem pertanian yang lebih inklusif
Keterlibatan perempuan dan generasi muda memperkuat fondasi ekosistem pertanian. Inklusi menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.Sustainability Report Elevarm 2025 menunjukkan bahwa ketika akses terhadap pelatihan, pasar, dan peluang kepemimpinan semakin terbuka, petani memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, pemberdayaan petani perempuan dan petani muda menjadi langkah penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh dan relevan di masa depan.